Kamis, 26 Februari 2009

Nilai Sebuah Kebanggan

Di rumah ibu dan bapakku, banyak terpajang di dinding ruang tamu berbagai piagam dan penghargaan bintang gerilya yang di bingkai dan tersusun rapi. Kedua orang tuaku (Bapak sudah almarhum) memang pejuang veteran yang ikut bertempur melawan penjajah di Yogyakarta dalam sejarah serangan umum 1 maret 1949.

Sampai suatu ketika anak-anak ku yang saat itu masih berumur 10 dan 8 tahun bertanya : untuk apa sih berbagai pajangan itu dipampang terbuka, untuk apa???

Aku sempat termenung sesaat atas pertanyaan ini. Bagaimana aku harus menerangkan kepada anak se usia itu dengan jelas dan dapat dimengerti. Lalu kujawab :

Nak… semua itu adalah penghargaan pemerintah Indonesia kepada eyang karena telah berjuang dan mengorbankan jiwa raga untuk membela negara indonesia tercinta ketika bangsa penjajah berusaha menindas rakyat Indonesia, eyang ikut mengangkat senjata dan melawan sekuat tenaganya demi kemerdekaan Indonesia. Eyangmu dan eyang-eyang lainnya itu adalah pahlawan yang patut dihormati. Ayah bangga menjadi anak seorang pahlawan, seharusnya kamu juga bangga memiliki eyang seperti itu.

Anak-anak ku tampak berpikir dan mencoba mengerti penjelasanku. Mungkin mereka belum dapat sepenuhnya mencerna nilai sebuah kebanggan. Yang mungkin dapat mereka pahami adalah bahwa eyangnya memiliki keberanian seperti “Rambo” yang mengangkat senjata api dan bertempur melawan musuh. Namun apapun, persepsi seorang anak tentu masih sangat sederhana. Tugas orang dewasalah yang harus memberi pemahaman nilai-nilai secara terus menerus yang akan dapat membentuk karakter anak dalam menuju masa pertumbuhannya.

Setiap manusia tentu memiliki sesuatu untuk dapat dibanggakan, apapun wujud dan bentuknya, tidak terkecuali. Menurut saya Generasi orang muda tempo dulu (1949) boleh berbesar hati karena telah membuktikan darma bhaktinya kepada bangsa dan negara yang diaktualisasikan melalui kesediaan memanggul senjata sebagai wujud kesetiaan dan kecintaan terhadap tanah air sehingga rela bela negara. Sebuah era emas (golden moment) pada jamannya. Pengorbanan harta benda dan jiwa sekalipun menjadi prioritas kesekian. Barangkali ini sebuah sikap spontan kaum muda dulu untuk mempertahankan martabat dan harga diri sendiri. Mungkin mereka tidak pernah berpikir bahwa jika saya gugur dalam pertempuran, batu nisannya akan diukir dengan tinta emas sebagai pahlawan. Mungkin mereka juga tak pernah berpikir jika mereka tetap dapat bertahan, nantinya akan dianugerahi bintang kehormatan dan disegani banyak orang. Sikap spontan tersebut lebih didorong oleh rasa sakit karena martabatnya telah diinjak dan ditindas oleh bangsa lain sebagai penjajah. Barangkali memang demikianlah sikap orang muda pada umumnya. Semangat, dinamis, berapi-api dan bernyali.

Golden moment tidak dapat terulang untuk ke dua kalinya. Ia hanya datang satu kali dalam hidup, dan jika kesempatan itu tidak diambil, maka ia akan berlalu dan tak pernah kembali. Dan ini berarti hilangnya sebuah kebanggaan yang hakiki.

Sudah pasti setiap orang memiliki kebanggaan dalam hidupnya masing-masing. Namun nilai kebanggaan tersebut juga meniliki tingkatan dan nilai yang berbeda. Nilai tertinggi sebuah kebanggaan adalah jika kita mampu dan dapat “berbuat sesuatu” yang berguna bagi orang lain atau bahkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar yaitu : bangsa dan negara, seperti sebuah kalimat legendaris dari seorang presiden John F. Kennedy : Jangan tanya apa yang negara dapat berikan kepadamu, namun bertanyalah, apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu. Inilah salah satu ujud kebanggan yang hakiki dan sejati.

Andai saja saya berada pada jaman itu, sayapun tak kan ragu untuk bergabung dengan mereka untuk bertempur. Sayangnya saya adalah generasi yang lahir sesudahnya, era kemerdekaan yang tentu saja tidak akan mengalami kisah-kisah kepahlawanan seperti dulu.

Dalam era kekinian yang penuh dengan semangat materialisme dan konsumerisme, dimana masyarakat cenderung mengejar kebendaan dalam sikap “hedonisme”. Nilai kebanggaan apa yang masih dapat diharapkan ??? kekayaan ? kemewahan ? dan berbagai keberadaan harta benda lain?. Pertanyaan ini sering mendapat jawaban : “emang gua pikirin (EGP)”.

Apapun, inilah jaman yang sedang berlaku saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua ada didalam arus ini jika kita berharap dapat terus “survive”,. Namun apakah kita akan begitu saja larut?. Saya menjawab “TIDAK”. Dalam situasi dan kondisi yang makin “egosentris” ini, kita tetap wajib memelihara “hati nurani”, karena saya sangat percaya bahwa buah dari sebuah hati nurani adalah bernilai “kebaikan”. Kita harus senantiasa berharap bahwa kebaikan akan menang melawan “kemungkaran”. Sekecil apapun suara hati nurani, patutlah kita dengarkan, karena jika tidak, dunia ini akan semakin dipenuhi oleh ketidakadilan.

Dalam serbuan “globalisasi”, barangkali inilah salah satu yang harus diperjuangkan oleh kaum muda masa kini dalam rangka meraih golden moment di era kemerdekaan. Jika saja ini dapat dilakukan, paling tidak kita sudah menyumbang mengurangi praktik-praktik ketidakadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saya teringat pada sebuah syair lagu : “Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, airmatanya berlinang……. Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa”.

Barangkali, Ibu pertiwi saat ini juga sedang menangis atas terpaan globalisasi yang terlanjur mendidik anak-anaknya kedalam “sikap pengingkaran” martabat leluhur dan akar budaya bangsa.

Akankah kita bela ibu pertiwi kita???. Membebaskan ibu dalam luka batin dan dukalaranya adalah juga sebuah perjuangan. Dan jika kita sudah berbuat sesuatu untuknya, sekecil apapun, niscaya sikap ini akan menjadi sebuah “kebanggaan yang memiliki nilai” pada hari-hari sesudahnya.

Jadilah diri sendiri.